Forum Positif

Berbagi hal Positif

1. Anak Jalanan, Diberi atau Tidak?

Hari minggu itu aku jalan-jalan untuk mencari HP baru. Mungkin aku akan lebih tertarik lagi ketika melihat sendiri barangnya, setelah sebelumnya melihat foto, fitur, dan harganya, di sebuah tabloid. Tapi pada hari itu yang lebih menarik bukan masalah HP dan model-modelnya yang terus bertambah dan semakin hari semakin heboh, namun anak jalanan di sebuah perempatan yang kebetulan aku kenal salah satu diantara mereka. Aku pernah bertemu dengannya di kampung. Dia anak teman lamaku. Teman sekampung.

Entah dia mengenaliku atau tidak. Yang jelas bersama-sama teman-temannya bergembira sekali ketika aku memberinya setandan pisang. Dari dalam mobil terlihat mereka berebutan sambil bercanda. Tampak sekali keceriaan dan kebahagiaan di wajah-wajah mereka. Dalam keadaan dan kondisi yang harus mereka jalani. Kehidupan yang mungkin bukanlah pilihan terbaik untuk anak-anak itu. Tapi itulah kehidupan. Di tengah terik matahari dan bahayanya lalu lintas jalan raya yang sangat ramai siang itu. Membuat aku sejenak melupakan HP baru yang aku inginkan.

Saya teringat beberapa waktu lalu ketika ada anak yang mengamen. Aku bertanya pada mereka pertanyaan sederhana. “Apa tujuan mereka mengamen?” Aku sudah siap mendengar jawaban: “Untuk menghibur orang.” “Bernyanyi untuk menghibur orang dan mendapatkan imbalan atas jasa menghibur itu.” Namun bukan jawaban seperti itu yang aku dapatkan. Dengan polosnya mereka menjawab “Untuk mencari uang”.

Ya, mungkin mereka belum pernah belajar ‘Bagaimana mencari kawan dan mempengaruhi orang lain’. Dalam kondisi seperti itu, yang mereka katakan pada orang lain adalah mereka hanya peduli pada diri mereka sendiri.

Apakah itu salah mereka? Tentu saja tidak. Paling tidak itu menurut saya. Mereka hanya belum tahu. Siapa yang mengajari mereka? Orang tua, yang jika masih ada, juga sibuk meminta-minta seperti mereka. Seperti anak teman sekampungku itu, yang kemudian aku ketahui tidak punya Bapak lagi. Temanku itu telah tiada.

Kembali saya merenung, apakah benar jika pemerintah melarang memberi uang receh (tentu saja juga makanan seperti yang aku lakukan saat itu) pada anak-anak jalanan dan peminta-minta yang lain. Agar mereka tidak terbiasa dan terus melakukan aksinya dan jumlahnya terus bertambah, karena usaha mereka mendapatkan hasil. Jika tidak ada yang memberikan uang receh seperti yang mereka harapkan, dengan sendirinya mereka berhenti melakukan pekerjaan itu.

Tapi selanjutnya aku terus berpikir, lalu usaha apa lagi yang harus mereka lakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Jika mereka tidak berkeliaran di jalan, bagaimana pemerintah tahu, jika mereka sangat membutuhkan bantuan. Bahkan hanya untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Bagaimana mereka bisa menunjukkan pada masyarakat dan pemerintah bahwa mereka mengharap belas kasih.

Aku kemudian berpikir tentang diriku sendiri. Apa yang bisa aku lakukan untuk membantu mereka, dan tidak membuat mereka terus berada di jalanan untuk meminta-minta.

Ada yang bisa membantuku?

Juli 30, 2007 - Posted by | Pengetahuan, Renungan, Umum

9 Komentar »

  1. Anak Jalanan=>DIBERI!
    Sejak zaman Plato, Aristoteles, Muhammad, Montesqieu, tugas negara ada 3, yaitu:
    1. Mencerdaskan rakyat
    2. Memakmurkan rakyat
    3. Melindungi rakyat
    Apabila negar tidak menjalankan fungsi ini maka perlu dipertanyakan.
    Menurut Revrisond Baswir, ekonom UGM, kemiskinan disebabkan oleh 3 hal, yaitu :
    1. Struktural (kebijakan pemerintah)
    2. Kultural (budaya masyarakat itu sendiri)
    3. Natural (keterbatasan manusia, ex: cacat, dll)
    Ternyata, sebagian besar kemiskinan di Indonesia disebabkan oleh struktural atau kebijakan pemerintah. Sehingga “lucu” ketika pemerintah sendiri melarang orang untuk memberi anak jalanan nafkah, anak jalanan mau dapat darimana. Teringat perkataan Aa Gym bahwa itu adalah tanggung jawab kita semua, SALAH! awalnya adalah tetap tanggungan pemerintah, sebab merekalah yang memegang proses distribusi sumber daya-sumber daya negara.

    Wahyu Gema Revolusi
    Sosiolog Jogja yang sedang kurang kerjaan…

    Komentar oleh Wahyu Gema Revolusi | Oktober 2, 2007 | Balas

  2. Ok u/ kasus di atas, memang seharusnya adalah tanggung jawab pemerintah, krn sdh ada pasal dr UUD ’45 pasal 34 yang mengharuskan pemerintah spy memelihara fakir miskin dan anak-anak terlantar.
    Anak jalanan=anak terlantar tho?
    Jdi sdh seharusnya pemerintah ambil bagian dalam mengurus masalah banyaknya anak jalanan yang bertebaran di ibukota jakarta maupun kota-kota lainnya.
    Tetapi juga tidak dapat dipungkiri, ada suatu “bisnis terselubung” yang juga marak di negeri kita ini. Tidak lain dan tidak bukan adalah bisnis yang bekedok anak jalanan, pengemis dan sebagainya. Sementara di kampung halaman mereka sendiri, mereka memiliki rumah serta fasilitas yang memadai dan bs dibilang WAH!. Tetapi ketika bekerja di ibukota untuk mendalami bisnis terselubung tsb, mrka berpenampilan layaknya anak jalanan, pengemis yang tidak terurus. Padahal itu cuma kedok sementara saja. Nah, tugas pemerintah pun juga hrus bisa mbedakan dan m’klasifikasi org2 yang benar2 dr kalangan tidak mampu alias ‘terlantar’ dengan org2 yang mampu tapi berpanampilan ‘terlantar’…
    Karena pernah ada liputan di salah satu tv swasta yg mengungkap fakta binis terselubung yg t’diri dr org2 mampu tapi berpura-pura menjadi ‘terlantar’ di ibukota..

    Komentar oleh fudz | November 6, 2008 | Balas

  3. [...] Anak Jalanan, Diberi atau Tidak? [...]

    Ping balik oleh Daftar Isi « Forum Positif | Maret 17, 2009 | Balas

  4. [...] : Katanya anak pendeta ex [...]

    Ping balik oleh Rama Bargawa -Naskah Drama « Forum Positif | April 2, 2009 | Balas

  5. [...] kelompok food sangat banyak diminati oleh semua kalangan terutama anak-anak. Khusus produk atau barang, mie selain harganya terjangkau, mie juga bisa menjadi pengganti [...]

    Ping balik oleh MELAKUKAN TRANSAKSI PENJUALAN BARANG-BARANG KEBUTUHAN SEHARI-HARI « Forum Positif | April 15, 2009 | Balas

  6. [...] Padahal justru pada usia tersebut protein sedang sangat diperlukan bagi pertumbuhan badan anak. Penggunaan makanan sapihan yang bersifat instan sebaiknya tidak terlalu sering [...]

    Ping balik oleh Fungsi Zat Gizi Dan Sumbernya Dalam Bahan Makanan « Forum Positif | April 20, 2009 | Balas

  7. [...] [...]

    Ping balik oleh 17192931 « Forum Positif | Mei 1, 2009 | Balas

  8. [...] kala, di daratan Cina tinggalah Kakek dan Nenek Chen. Mereka tidak mempunyai anak. Hidup mereka sehari-hari hanya mencari kayu bakar di hutan. Kayu itu nantinya dijual Kakek Chen ke [...]

    Ping balik oleh 300 Tael perak « Forum Positif | Mei 5, 2009 | Balas

  9. [...] [...]

    Ping balik oleh 29 31 57 59 « Forum Positif | Mei 6, 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.